Pelancong

"Ada yang salah.. ada yang salah." Teriaknya saat semua menjauh, kehidupan yang dulu ia punya, keluarga yang harmonis, percintaan yang romantis, teman yang akrab, akademik yang bagus, karir yang mantap, dan lingkungan yang kondusif, kini tak lagi terasa. Ia merasa sesak, kesepian, tak berkawan. 

Suatu hari ia memutuskan untuk tidak ambil bagian dari hidup BAJINGAN ini. Resign dari pekerjaan, membakar semua ijazah, menghapus akun media sosial, membuang gadget, kabur dari rumah, melancong. Gelandangan. Berjalan dari satu kota ke kota lain, ngamen, mengais sampah -bermanfaat juga sih itung itung ngurangin sampah di bumi- kadang ada juga yang kasihan lalu kasih ia pekerjaan. Apapun dilakukannya asal bisa bertahan untuk  hari ini, kedepannya esok ia pikirkan

Di kota dingin tak bernama itu ia bertemu seorang konco sebut saja Parto, gelandangan yang lain maksudnya. Berlainan dengan ia, Parto bukanlah petarung yang kalah bertaruh. Parto tak pernah mengecap kata stabil,  diajar merasa tanpa mendapatkan rasa. Menggelandang bahkan dari embrio. Parto berperawakan kasar, sawo matang dengan rambut gimbal yang bertahun-tahun tak pernah dicuci. Di pipi kiri ada sedikit codet, tanda kematangan katanya.

Parto punya sikap yang romantis, kala malam di bawah kerlip bintang Parto sering bercerita tentang roket pertama yang mendarat di bulan beserta orang yang dibawanya- agak nyeleneh sih- Ia manggut manggut tak protes karena tidak ingin Parto menghentikan ceritanya. Parto terus bercerita hingga malam makin pekat, dan keduanya tetidur pulas di atas ratusan kata yang dinaungi milyaran bintang. Siklus yang sama selalu berulang tiap malam, kadang cerita Parto tentang rasi bintang yang menunjukkan kematian, gurun di entah berantah, hutan gelap yang dihuni alien, lautan dalam tempat keluar dajjal, pohon keramat di batas kota. Ia selalu antusias mendengat cerita Parto meskipun ia tahu itu hanya imajinasi yang termarginalkan karena otak terlalu lama tak diajak berpikir hingga menciut dan mengarang sekenanya.

Lumayan lama ia menetap di kota itu. Ia merasa menemukan kesegaran dalam diri Parto. Perasaan yang tak pernah didapatkan saat hidup dalam batas elit-elit korporat. Dimana semua serba ada asalkan lidah mampu bertahan walau mengecap pahit. Dulu ia punya segalanya tapi merasa tak bermakna. Kadang hidup memang aneh, punya cukup tak merasa cukup. Kali ini ia tak berpunya selain cerita-cerita gila yang bercokol di kepala buah dari kenekatannya pada Parto.

Dasar ia. Sejak jadi gelandangan kelas kakap tak pernah betah lama-lama berkawan. Tiba saatnya saraf-saraf kegilaannya mengirim sinyal bahwa sudah cukup. Persahabatan dengan Parto harus diakhiri. Petualangan yang lain menunggu. Kabar harus beredar bahwa ia tak bersama siapapun meski hanya di dengar pepohonan. Maksud tersampaikan. Tibalah harinya ia berangkat dengan bekal seadanya menuju tempat yang belum diputuskan. Parto menangis merasa ditinggal tanpa kata-kata karena kini tak ada lagi yang akan percaya cerita-cerita anehnya.

Komentar

Postingan Populer