Karena Kita Tidak Istimewa

Kamu pernah berpikir terlalu sial kalau banyak sekali masalah yang datang bertubi-tubi seperti tidak ada hentinya. Pernah sesekali kamu meraung sejadi-jadinya, namun pernah pula kamu tidak lagi merasakan apapun terhadap setiap hal yang menghadang. Seperti semua sudah hilang dan tidak lagi berarti apa-apa. Kemudian kamu juga pernah menyalahkan keadaan yang seakan tidak berpihak padamu. Semesta tidak menginginkan kamu bahagia, Tuhan tidak adil, dan dunia bukan tempat yang ramah untuk kamu tinggali. Sekali lagi kamu terjebak dalam putaran nasib penuh ratapan yang tiada habisnya.

Ada yang kamu lupa. Bahwa kita punya banyak cerita di dalam alur kita masing-masing. Semakin dalam kamu mengenali seseorang semakin kamu tahu bahwa kita tidak sendirian. Banyak sekali orang di luar sana yang pandai menutup rapat-rapat lukanya, sehingga tidak ada celah untuk banyak keluh. Coba saja sesekali bicara dari hati ke hati dengan orang lain yang kamu anggap sangat ceria dalam menjalani hidup. Kamu akan terkagum-kagum dengan dalamnya lautan yang diselami. Kamu akan bertanya-tanya dan berefleksi bahwa "Kita bukan apa-apa". 

Kita semua hadir dengan cerita yang sebagai pemeran di dalamnya tentu cerita yang berarti. Tidak ada salahnya akan hal itu. Yang kerap menjadi masalah ialah ketika kita berusaha untuk terlalu membekukan makna pada apa-apa yang kita anggap sakit. Tentu semua orang punya hal berartinya masing-masing. Ada yang menganggap senyuman orang-orang tersayang -keluarga- adalah hal yang teramat berarti. Bagi sebagian dari kita kadang lebih mementingkan kebahagiaan sendiri, karena tak di temukan damai bersama orang lain. Makna yang lebih dalam lagi dituangkan jika bahagianya adalah kebermanfaatan bagi sesama manusia. Apapun itu aku ingin kamu percaya bahwa setiap peran yang kita ambil tidak ada yang sia-sia, selama peran itu tidak melanggengkan rasa bahwa "Akulah korbannya".

Mungkin dalam beberapa tahun terakhir kita memang menjadi korban akan hal-hal buruk yang datang silih berganti. Kita dikorbankan oleh ketidaksiapan orang tua semasa kecil, kita dikorbankan oleh penghianatan orang yang dipercayai, kita dikorbankan oleh waktu yang mengambil kata "baik-baik saja" dalam putaran hari. Lantas ketika menjadi korban apakah kita hanya akan membalut luka sekenanya?. Mudah bagi kita yang merasa korban untuk menyalahkan keadaan, karena memang begitu sifat dasar manusia. Sering berdalih akan banyak alasan agar tetap di zona nyaman karena banyaknya ketakutan yang tidak ingin kita taklukkan.

Saat menulis ini banyak tanya yang muncul di pikiranku. Salah satunya adalah apa aku sudah sangat pantas memberi pandangan. Sudahkah aku lepas sepenuhnya dari merasa istimewa, bukankah selama ini aku juga orang yang selalu melanggengkan luka dan berlarut-larut tanpa berupaya mengobatinya. Jawabannya, iya. Namun sejauh apapun aku mencari obat tidak ada obat yang lebih mujarab daripada kejujuran. Lewat ini aku hanya ingin jujur terhadap diri sendiri dan menaklukkan rasa takut bahwa aku masih menganggap diriku lebih istimewa dibanding orang. Perjalanan menyadari memang masih sangat panjang. Bahkan setelah sadar proses penerapan hingga menjadi karakter pribadi mungkin juga akan melelahkan. Kita tidak pernah tahu sampai kapan waktu yang dibutuhkan untuk berproses menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika harus, aku bersedia kembali dan kembali lagi membaca ini dan merenung untuk kesekian kalinya. Sudah sejauh apa aku sadar akan banyak jiwa berharga yang harus diberikan penghargaan terhadap senyuman tulusnya dihadapan kita.

Kalimat karena kita tak seistimewa itu berhasil memukul sadarku berkali-kali. Tidak ada luka yang tidak berarti. Tapi juga tidak ada luka yang terlalu berarti untuk membiarkan diri kita tengelam berlarut-larut di dalamnya. Sehingga lupa bahwa ada banyak hal baik disekitar yang bisa kita rasakan jika saja kita tidak tenggelam terlalu lama dalam samudera gelap yang kita ciptakan sendiri. Merasa istimewa terkadang membuat kita lupa menghargai orang-orang yang ingin membuat kita bangkit dengan banyak caranya, berusaha mengabaikan dirinya agar kita tidak jatuh terlalu jauh. Kita lupa bahwa hal berharga hadir hanya jika kita berupaya menghargai.

 

Komentar

Postingan Populer